Berbagi Sedikit Oleh-Oleh Daurah Syar’iyyah ke 12 Masyayikh Yordania di Trawas Juli 2011; Sekilas Tentang Daurah dan Nasehat Pada Pembukaan Daurah (Bag 1)

Berbagi Sedikit Oleh-Oleh Daurah Syar’iyyah ke 12 Masyayikh Yordania di Trawas Juli 2011; Sekilas Tentang Daurah dan Nasehat Pada Pembukaan Daurah (Bag 1)

Alhamdulillah pada tahun ini kami dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk menghadiri daurah yang penuh barokah dan mendapat Ridha Allah Ta’ala insya Allah ditengah kesibukan yang cukup padat. Daurah yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Ali bin Abi Thalib Surabaya bekerjasama dengan Markaz Al-Imam Al-Albani Yordania mulai tanggal 1-7 Sya’ban 1432 H / 3-9 Juli 2011 M bertempat di Blessing Hills Trawas Mojokerto Jawa Timur.

Daurah kali ini adalah Daurah Syar’iyyah ke 12 dengan pemateri para Masyayikh dari Negeri Syam Yordania dan dihadiri oleh para ustadz dan da’i dari seluruh Indonesia yang mendapat undangan dari panitia.

Para Masyayikh dari Negeri Syam Yordania yang datang pada daurah kali ini adalah tiga Masyayikh, yaitu;

1. Fadhilatusy Syaikh Ali Hasan Al-Halaby Al-Atsary hafidhahullah.
2. Fadhilatusy Syaikh DR. Muhammad Musa Alu Nashr hafidhahullah.
3. Fadhilatusy Syaikh Prof. DR. Basim bin Faishol Al-Jawabiroh hafidhahullah.

Ketiga Masyayikh tersebut adalah para pakar dalam bidang ilmu hadits dan ilmu Al-Qur’an serta ilmu-ilmu syari’at lainnya yang diakui oleh dunia. Mereka adalah para Masyayikh yang ilmunya sangat luas, mantab dan mendalam serta memiliki kesabaran dan sifat tawadhu’ yang luar biasa dalam berdakwah mengajak manusia kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta memahaminya dengan pemahaman para Salafush Shaleh radhiyallau ‘anhum ajma’in di seluruh penjuru dunia.

Para Masyayikh setiap hari menyampaikan materi-materi yang sangat bermanfaat dan ditutup dengan Liqo’ Maftuh (pertemuan terbuka untuk musyawarah dan berbagi cerita serta pengalaman, juga membahas semua permasalahan yang berkaitan dengan dakwah dan ilmu) mulai pukul 8 WIB sampai pukul 21 WIB dengan diselingi oleh istirahat, shalat dan makan.

Materi kajian yang dibahas ada tiga, yaitu;

1. Kitab Shahih Al-Bukhari, Kitab Bad’il Wahyi dan Kitab Al-Iman. Disampaikan oleh Fadhilatusy Syaikh Ali Hasan Al-Halaby Al-Atsary hafidhahullah.

2. Kitab Al-Qoulul Munir Fi ‘Ilmi Ushulit Tafsir (Ilmu Pengantar dan Prinsip Dasar Tafsir), karya Asy-Syaikh Ismail bin Utsman Zain Al-Yamani Al-Makky. Disampaikan oleh Fadhilatusy Syaikh DR. Muhammad Musa Alu Nashr hafidhahullah.

3. Kitab At-Ta’liqot Al-Atsariyyah ‘Alal Mandhumah Al-Baiquniyyah (Ilmu Mushthalah Hadits), karya Syaikh Thaha bin Muhammad bin Futuh Al-Baiquni yang telah disyarah oleh Fadhilatusy Syaikh Ali Hasan Al-Halaby Al-Atsary hafidhahullah. Disampaikan oleh Fadhilatusy Syaikh Prof. DR. Basim bin Faishol Al-Jawabiroh hafidhahullah.

Materi-materi yang disampaikan cukup berbobot terutama dari sisi penjelasannya dan ketika sesi tanya jawab. Seandainya ada diantara peserta yang pernah mempelajari kitab-kitab tersebut maka daurah ini berfungsi untuk menyegarkan ingatan kembali dan kesempatan untuk muraja’ah atau evaluasi kembali data-data yang telah lalu.

Diantara fungsi daurah ini adalah agar supaya para ustadz dan para da’i lebih dekat dengan para Ulama’ Robbaniyyun untuk mengambil faedah dari mereka serta sebagai sarana pertemuan dan reuni diantara para ustadz dan para da’i dari seluruh Indonesia. Suasana menjadi cair dan sejuk tatkala bertemu dengan teman-teman lama dan semua permasalahan menjadi jernih dan jelas setelah berjumpa dan berkomunikasi secara langsung.

Pada saat pembukaan daurah, yaitu hari Ahad ba’da Isya’ tanggal 1 Sya’ban 1432 H / 3 Juli 2011 M tampil sebagai pembicara adalah ketiga Masyayikh Yordania hafidhahumullah, dipandu oleh panitia yang diwakili oleh Mudir Sekolah Tinggi Agama Islam Ali bin Abi Thalib Surabaya, Al-Ustadz Abdur Rahman At-Tamimi hafidhahullah.

Diantara nasehat yang disampaikan oleh Fadhilatusy Syaikh Ali Hasan Al-Halaby Al-Atsary hafidhahullah pada saat pembukaan daurah ini adalah agar supaya para ustadz dan para da’i lebih mengedepankan sikap lemah lembut dalam berdakwah dan menjauhi sikap keras dan kasar teruatama pada zaman ini, yaitu zaman yang penuh dengan fitnah dan pecah belah bahkan di kalangan Ulama’ dan Thullabul ‘Ilmi (para penuntut ilmu).

Beliau juga menjelaskan tentang pemahaman salah tapi banyak yang menganut dan melakukannya, yaitu pemahaman bahwa seseorang itu disebut sebagai Salafy apabila ia keras dan kasar dalam dakwahnya, semakin keras dan kasar berarti semakin Salafy. Ini adalah pemahaman yang salah dan tidak bisa dibenarkan. Justeru yang seharusnya terjadi adalah seseorang disebut sebagai Salafy jika semakin pandai berlemahlembut dalam dakwahnya.

Nasehat Fadhilatusy Syaikh Ali Hasan Al-Halaby Al-Atsary hafidhahullah tersebut adalah juga merupakan nasehat yang selalu disampaikan oleh para Ulama’ rahimahulullah yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah Ta’ala barfirman: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”. (QS 48 Al Fath ayat 29).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya sifat lemah lembut itu apabila ada pada sesuatu maka menjadikannya indah. Dan tiadalah dicabut dari sesuatu melainkan menjadikannya buruk”. (Hadits Shahih).

Realita yang ada saat ini adalah terjadi saling menghujat, fitnah dan bahkan menghancurkan diantara sesama muslim bahkan sesama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sesama ustadz, sesama da’i, sesama Thullabul ‘Ilmi (penuntut ilmu agama). Metode dakwah yang diterapkan adalah metode menejemen konflik, yaitu agar supaya dakwahnya laku maka cara yang dipakai adalah menghancurkan dakwah saudaranya sendiri. Persaingan tidak sehat dan penuh kecurangan. Sehingga akibatnya terjadi pecah belah. Dakwah yang telah dibina dan menjadi besar berubah menjadi kecil karena terpecah. Pecahannya pecah lagi, pecahannya pecah lagi dan pecahannya pecah lagi, demikian seterusnya. Semakin pecah dan semakin kecil sehingga Islam yang luas menjadi seperti kotak yang teramat sangat kecil. Para pengemban agama dan Thullabul ‘Ilmi berwajah sinis, sangar dan seram serta sangat jauh dari akhlakul karimah. Semakin rajin belajar agama justeru semakin buruk akhlaknya, busuk lidahnya dan jahat perangainya serta buta hatinya. Semakin bertambah ilmunya semakin bertambah kesombongan dan kecongkaannya. Merasa bahwa dirinya adalah yang paling benar. Murid-murid berani melawan ustadznya dan bahkan menghujat dan mentahdzir ustadznya sendiri. Kacang lupa kulitnya. Manusia-manusia yang tidak mempunyai kesetiaan dan tidak pernah menghargai kebaikan.

Benarkah Islam mengajarkan seperti ini?
Benarkah ini ajaran Salafush Sholeh?
Mungkinkah mereka mendapat ridha Allah?
Inikah ilmu yang bermanfaat?
Lupakah mereka dengan hari pembalasan?
Apa yang mereka cari?

Ini adalah renungan untuk kita semua supaya waspada untuk tidak menjadi seperti itu. Agama Islam itu indah dan nikmat apabila kita IKHLAS mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dipahami dengan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman Salaf Ash-Sholih dari kalangan para Sahabat Nabi, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in radhiyallahu ‘anhum ajma’in.. Semoga bermanfaat.. [Abdullah Sholeh Hadrami].

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *