Ketiga: Membela Syariat.
(( Hendaklah dalam menuntut ilmu berniat membela syariat, karena kitab-kitab tidak mungkin bisa membela syariat. Tiadalah yang membela syariat melainkan para pengemban syariat. Disamping itu, bid’ah juga selalu muncul silih berganti yang ada kalanya belum pernah terjadi pada jaman dahulu dan tidak ada dalam kitab-kitab sehingga tidak mungkin membela syariat kecuali para penuntut ilmu.)) –Kitab al-‘Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 27-28
(( Alangkah banyaknya kitab dan alangkah banyak pula perbedaan didalamnya ! Seorang muslim tidak lagi tahu apa yang harus ia ambil dan apa yang harus ia tinggalkan? Dari mana memulai dan dimana berakhir ! )) –Wasiyyatu Muwaddi’, Husain al-‘Awayisyah hal: 29-30.




insya Alloh..jadi pengemban dan mengamalkan ilmu sesuai pemahaman para salafussholeh..
membela syariat hanyalah mengamalkan ajaran AlQuran, sekiranya kitab-kitab itu ditulis dalam mengembangkan kebaikkan berdasarkan AlQuran dan sunnahnya, pasti tidak ada perbedaan pendapat, karena Imannya hanya kepada Allah, Islamnya hanyalah dengan keikhlasan melaksanan AlQuran (cinta kedamaian), dan ikhsannya tidak mengikuti nafsunya menganggap benar sendiri, karena perbuatan baiknya hanyalah dilakukan karena Allah seutuhnya, bukan karena manusia, dan selalu saling menghargai orang lain dalam berbuat kebajikan, tidak mengkultuskan golongannya, kitab-kitab buatannya sendiri dan dalam beragama menganggap paling benar dirinya, lupa akan firman Allah. Walaa tuzkkuu anfusahum artinya, janganlah enkau menganggap dirimu suci, (paling bennar), buat pelajaran kita semua yang beriman dan bertaqwa.
Allohummahdina shirothol mustaqim